Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 26 Mei 2012

Banaspati

Jembatan Kademangan yang melintas di atas Sungai Brantas, dipercaya oleh kalangan masyarakat sekitarnya sebagai lokasi paling wingit di kawasan Blitar, Jawa Timur. Jembatan yang menjadi jalur utama jurusan Blitar-Tulungagung lewat jalur selatan ini, jika malam hari acap dihindari oleh para pengendara. Hal tersebut terutama akan sangat terasa di malam hari Selasa dan Jum’at Kliwon. Umumnya para pengendara memilih lewat jalur utara (Ngantru), kecuali bus-bus antar kota yang sudah terbiasa lewat di sana.

Konon, makhluk gaib yang biasanya muncul di tengah jembatan sepanjang sekitar 200 meter itu adalah apa yang disebut sebagai siluman Banaspati. Penampakan makhluk lelembut ini berwujud kobaran bola-bola api yang datang mendadak, dan sekonyong-konyong menukik dari angkasa malam. Setelah itu sang Banaspati menghadang tepat di tengah jembatan.

Menurut saksi mata yang ditemui,setelah mendarat, aksi selanjutnya makhluk-makhluk itu biasanya cuma berputar-putar mirip gangsing, tapi bila nekad diterjang akan membakar tubuh korbannya. Luka bakar tak terhindarkan lagi, sebagaimana yang dialami oleh Suwito, 41 tahun, warga Desa Gawang, Kec. Bakung.

“Waktu itu saya ingin pergi ke Kota Blitar untuk menjenguk famili yang dirawat di RUSD Mardi Waluyo. Saya berangkat sendirian mengendari sepeda motor. Tiba-tiba, ketika masuk jembatan Kademangan, saya kaget setengah mati, Mbak! Betapa tidak, karena dari atas jatuh bola api sebesar tampah (alat penampi beras) dan berputar-putar. Dalam ketidaktahuan dan ketakutan, saya langsung tancap gas. Nggak tahunya kaki kanan saya dilabrak benda berapi itu!” Kisahnya pada Misteri sembari memperlihatkan bekas luka bakar di kaki kanannya.

Setelah dibawa ke puskesmas beberapa kali belum juga sembuh, akhirnya dibawa ke seorang paranormal. Suwito baru mengerti kalau luka itu akibat semburan makhluk Banaspati. Tentu saja dia kaget, karena tidak menduga kalau hal yang semula dianggapnya takhyul itu terjadi menimpa dirinya.

Lain Suwito, lain pula yang dialami Parlan, 35 tahun. Pria yang berprofesi sebagai penjual bakso keliling ini punya pengalaman yang tak kalah menegangkan.
Ceritanya, suatu ketika selepas dini hari dia ingin pulang ke rumahnya setelah berjualan bakso keliling. Sama seperti yang dialami Suwito, ketika sampai di tengah jembatan Kademangan, tiba-tiba muncul bola apa dari angkasa. Benda ini langsung menghadangnya. Karena takut, Parlan langsung lari menabrak bola api yang sepontan memutari tubuhnya itu. Karena itulah Parlan mendeira luka bakar di dadanya. Hal ini membuatnya tidak bisa bekerja selama sekitar dua bulan.

Menurut mbah Martono, orang pintar di Desa Gawang, setan api bernama Banaspati itu sudah lama bermukim di sekitar jembatan Kademangan. Bahkan, sebelum jembatan itu dibangun.
“Dulu semasih ada perahu tambangan, Banaspati juga sering mencul. Tapi bola api gaib itu takut jika korbannya masuk air. Untuk itu belum ada yang jadi korban,” terangnya.

Diceritakan Mbah Martono, kalau dicermati, Banaspati itu juga punya tubuh dan anggota badan. Cuma kepalanya yang lebih besar dan membara. Ketika terbang, kepalanya ada di bawah, mengincar orang-orang yang lewat di tengah malam.
Di sisi lain, kata Mbah Martono, Banaspati itu merupakan salah satu setan yang paling jahil. Setiap kali ada orang melakukan semedi di tempat-tempat keramat, yang pertama muncul dan mengganggu juga hantu dari ras ini.

Selain jembatan Kademangan, pusat permukiman hantu Banaspati adalah di pelataran Candi Penataran. Kabarnya, jika malam hari kemunculan hantu ini bisa dilihat dengan mata telanjang, berupa luncuran-luncuran api itu yang muncul dari atas candi.
“Untuk yang di pelataran Candi Penataran jauh lebih banyak jumlahnya ketimbang yang ada di jembatan Kademangan. Karena situs sejarah itu menjadi titik pusat kegaiban di Blitar. Wajar kalau para petualang kadang tidak betah dengan gangguan setan api itu,” ungkap Pak Didik, petugas purbakala yang dinas jaga di candi terbesar di Jawa Timur itu.

Sebenarnya, kalau kita tahu, mengusir Banaspati tidak terlalu sulit. Orang yang ahli “menyepi” selalu membawa uborampe khusus guna mengatasi kejahilan Banaspati. Macam uborampe itu adalah garam dapur, bawang putih, sodo aren (lidi dari enau) dan welirang.
Garam dapur ditaburkan ke arah si setan api. Jika dia berani mendekat, tentu akan terjadi letusan-letusan kecil akibat terbakarnya garam.
Sedangkan bawang putih dimemarkan sejenak, lalu kita oleskan ke ubun-ubun, telinga, dan kaki. Lidi aren sebelumnya direndam dulu di tempuran kali (tempat bertemunya aliran sungai dengan sungai lain) selama semalam dan dimantrai. Sementara untuk welirang dibakar di pedupaan sehingga aromanya menyebar ke sekitar dan membuat Banaspati pergi menjauh. Konon, Banaspati tidak menyukai aromanya.

Adapun bunyi mantra untuk mengusir Banaspati yang sempat peroleh dari seorang paranormal, adalah sebagai berikut :

“Bismillahirramannirrahim

Setan bang komone Banaspati kang dumunung ono rohing wengi,

Aku anak adam kang kinemulan poro nabi lan poro wali.

Panase genimu isih panas cahyaning Allah,

Ojo siro ganggu gawe badan saliraku

yen orea siro lebur daning bendune Allah”

mantra gaib itu perlu laku tirakat, yaitu: puasa mutih selama 3 hari.

Kemustajaban mantra pengusir Banaspati ini memang benar-benar hebat. Buktinya para pelaku semedi di Candi Penataran, jarang yang mengeluh diganggu Banaspati. Kabarnya, mereka membekali diri dengan mantera ini.

Banaspati sendiri ketika mengganggu manusia mengarah ke ubun-ubun. Adapun resiko yang paling buruk dari gangguan makhluk gaib ini adalah “menyedot” isi kepala manusia lewat ubun-ubun.
Keganasan Banaspati di beberapa tempat angker di Blitar terhadap manusia memang belum terdengar sampai menimbulkan korban jiwa. Artinya, belum ada yang mati gara-gara disedot Banaspati.
Namun untuk hewan piaraan, sudah acap kali terjadi. Pernah terjadi di kawasan Blitar Utara, beberapa sapi perah mati mengenaskan karena kehabisan jaringan otak. Lukanya terdapat di ubun-ubun, dan itu terjadi di Desa Slumbung sekitar tahun 1999 silam.

Kembali pada Banaspati yang sering mengganggu di Jembatan Kademangan maupun di lokasi Candi Penataran, para tukang ojek di sana yang operasi di malam hari kabarnya selalu membekali diri dengan garam dapur. Garam dapur memang sudah menjadi jimat “instan”. Hal itu disebabkan garam berasal dari lautan. Laut, dalam perwatakan alam adalah tempat yang paling sempurna di dunia. Meski dari daratan terjadi banjir dan kotoran, tapi laut tetap jernih. Dari sifat laut inilah garam dapaur sejak dahulu kala merupakan jimat alami yang salah satunya berguna untuk melawan kekuatan makhluk halus.

“Selama ini saya menjadi tukang ojek. Saya sering mengantar penumpang melewati jembatan Kademangan, bahkan bisa tiap malam. Tapi saya tidak pernah takut,Karena punya jimat andalan, ini!” ujar Miskum

Ketika ditanya, pernahkah dia dihadang setan api itu? Dia menjawab “ya”.Ceritanya sepulang mengantar orang yang baru mudik dari Malaysia ke Tumpak Kepuh, kawasan Blitar Selatan. Tiba-tiba begitu masuk jembatan banyak bola-bola api. Karena dia sudah membekali diri, ditaburkannya garam dapur dan setan api itu seketika hilang.

Meski demikian, sampai saat ini orang akan berpikir dua kali untuk melintasi jembatan itu terutama selepas dini hari. Mereka lebih baik memutar ke timur lewat Lodoyo, atau melalui Brantas dengan cara menyeberang dengan perahu tambangan.

Demikianlah cerita tentang Banaspati yang selama ini menjadi penghuni jembatan Kademangan dan pelataran Candi Penataran. Benar tidaknya, silahkan Anda coba sendiri melewati jembatan Kademangan selepas dini hari di malam Jum’at Kliwon. Ya, siapa tahu Anda bernasib mujur bisa bertemu dengan si setan api!

0 komentar

Poskan Komentar